Kamis, 01 Juli 2010

Pantai karang bolong dan pantai Ayah.

Dari Jogja berangkat jam 8 pagi lewat jl. Deandles, begitu memasuki Purworejo... jalan rusak parah dan belobang2. Perjalanan yg diperkirakan hanya 2 jam, ternyata jauh dari yg direncanakan, sampai dipantai Karang bolong Gombong ternyata sdh jam 12.00 siang... sungguh perjalanan yg melelahkan.
Sesampai di pantai, ternyata pantainya biasa saja, hanya ada tebing dan goa yg tembus kelaut atau lebih tepat disebut lorong. Setelah lihat2 sebentar sambil duduk melepas lelah, perjalanan kulanjutkan kepantai Ayah melewati jalan kecil berliku2, naik dan turun..... sungguh perjalanan yg mengasyikkan bagiku daripada melihat pantai yg nggak begitu bagus.
Akhirnya perjalananku sampai jg dipantai Ayah yg menurut orang2 bagus, ternyata biasa aja. Kali ini aku nggak beranjak dari motorku, hanya duduk dan makan bekal dari rumah. Kumudian ke'ker yg telah kubawa dari rumahpun aku keluarkan. Melihat orang2 sedang memancing, nelayan yg sedang menebarkan jalanya di pinggir pantai dan tak lupa mencari2 siapa tahu ada wanita cantik yg sedang mandi.... hehehehe. Setelah puas melihat2 akupun segera berangkat lagi tuk pulang kerumah, tapi kali ini nggak lewat jalan yg tadi tapi lewat jalan besar, hitung2 cari pandangan baru dan jalan yg lebih bagus sekaligus guna beli bahan bakar untuk motorku yg mulai menipis.
Ternyata jalan besar jg mempunyai cerita yg lain... sopir bis yg mau menang sendiri, sampai2 mereka menghabiskan jalur untuk kendaraan dari arah yg berlawanan, spion yg rewel dan kabel spedometer yg putus. Tapi sebuah perjalanan pasti selalu mengasyikkan, paling nggak itu buat aku. Senantiasa ada banyak cerita dalam sebuah perjalanan, seperti mottonya persatuan MBI...., "This is abaut journey not destiny."
Jam 7 malam aku baru sampai di rumah, badan pegal karena menahan goncangan. Sebelum tidur... aku tulis pengalamanku ini untuk teman2, karena kalau aku nulisnya besuk pagi.... aku nggak bisa berjanji, apakah aku masih ingat dg perjalananku atau mungkin semangat untuk menulis sdh mulai menghilang.... sekian.

Maaf, karena foto2ku belum bisa aku upload, karena prosesnya yg agak ribet. Sebagai gambaran dan gambarnya hampir mirip dg fotoku (bagusan fotoku siih...) aku sertakan gambar ini saja. Sekali lagi aku minta maaf.

Minggu, 20 Juni 2010

Jogja – Wonosari – Parangtritis - Jogja


Dengan niat untuk menjelajahi gunung kidul sisi barat sampai parangtritis, aku berangkat menuju Wonosari. Berbekal peta yg telah kupelajari dari rumah, meluncurlah motor dg kecepatan sedang. Dari jalan menuju Wonosari tak kutemukan satupun pompa bensin yang menjual Pertamax, kuhitung dari ringroad selatan sampai wonosari kurang lebih ada delapan pompa bensin, tapi tak satupun yg menyediakan pertamax, semua cuma premium dan solar. Akhirnya terpaksa motor kubelikan premium dg pemikiran daripada kehabisan di jalan yg notabene masih kaya hutan belantara itu.
Setelah motor terisi penuh, perjalanan kulanjutkan sesuai dg peta (ragu-ragu sih sebenarnya), tapi akhirnya kuputuskan berbelok sesuai dugaanku. Tak jauh kemudian, aku bertemu persimpangan, sebenarnya agak ragu jg sih, tapi kuputuskan belok kanan. Jalannya sepi banget, hanya ada petani yg membawa rumput dari ladang. Pikiranku menghayal gimana nanti kalau ketemu harimau...? waah celaka niih. Tapi kulanjutkan juga, beberapa saat kemudian ada sebuah gerbang yg sepintas terbaca UGM, berarti disinilah letak Wanagama itu ya...? pikirku, akupun terus berbalik arah dan melanjutkan arah dari persimpangan tadi.
Gileeee....!!, jalannya menuruni bukit yg dalam dan menaikinya lagi hingga beberapa bukit terlewati, asyiiik niiih...!! petualangan seperti inilah yg aku ingin jalani, melewati jalan2 yg masih asing bagiku sungguh suatu yg menyenangkan. Rasa takut dan was2pun sirna terbayar oleh keasyikan melewati jalan yg menantang ini.
Tapi sayang sungguh disayang.... rute yg kutempuh ternyata salah dan hanya berujung hingga di Imogiri. Sambil melihat jarum penunjuk bensin yg ternyata baru berkurang sedikit, kuputuskan melanjutkan perjalanan menuju pantai Parangtritis. Parangtritis sekarang lebih besar dr yg dulu, sdh dibangun, tapi sayang.... apa karena perencanaan yg kurang tepat atau faktor promosi yg kurang gencar.... bangunan itu tak berfungsi apa2, mangkrak kata bhs jawanya...!. Sepertinya sdh menjadi kecenderungan para pemimpin kita, membangun dan kemudian dilupakan...,yang penting dana dari pusat bisa cair... ironis kan...??
Memikirkan masalah pemimpin kita memang bikin kepala kita serasa mau pecah, maka daripada aku sakit kepala mending perjalanan aku lanjutkan ke rencana semula. Tapi rutenya sekarang kubalik, kalau rencana dari Wonosari ke Parangtritis, sekarang menjadi dari Parangtritis ke Wonosari. Jalannya nggak begitu menanjak aku masih bisa menempunya dg kecepatan 50-70 km/jam, jalannya baik, baik dalam arti kata halus, ada angkotnya lhoo...?, tapi aku nggak tahu posnya dimana. Dengan melewati pemandangan bukit2 yg begitu indah, perjalanan jadi terasa begitu menyenangkan. Ditengah perjalananpun jalannya juga nggak ada turunan tajam seperti rute pertama tadi.
saking asyiknya..., tak terasa aku sdh mendekati kota Wonosari dan jalanpun semakin lebar dan lebih halus, maka dengan hati girang kujalankan motorku agak lebih cepat...
Wonosari telah lewat, dari jalan terlihat kota Jogja tempat terindah bagi hidupku. Karena badan sdh capai, maka motor kuarahkan kejalan menuju rumah....selesai.

Jumat, 18 Juni 2010

Kraton Prabu Boko



Kraton prabu Boko terletak di sebuah perbukitan disebelah selatan kota jogja dan di sebelah barat candi Prambanan. Mungkin diantara kita masih banyak yg belum pernah mengunjungi tempat bersejarah ini. 
Prabu Boko adalah seorang raja yg ditaklukkan oleh Bandung Bandawasa dan jg ayah dari dewi Roro Jonggrang. 
Sesuai dg namanya, tempat ini bukanlah sebuah candi tetapi benar-benar bekas sebuah bangunan kerajaan. Disana kita akan menemukan pendapa, tempat memasak dan tempat untuk pemandian para putri raja.
Karena letak kraton prabu Boko terletak di atas sebuah bukit, disini wisatawan sering menyempatkan diri untuk melihat tenggelamnya sang mentari.